h1

Mengajari Disiplin Anak Sejak Dini

04/05/2010

“Setiap hari Dino, 7 tahun selalu menghabiskan waktu di depan TV selama 5 jam. Ibunya sudah kehabisann akal untuk mengatur kegiatan Dino agar lebih terarah. Ia merasa bahwa anaknya tidak dapat disiplin. Waktu bermain, nonton TV bahkan belajar tidak teratur dan kadang kala membuatnya semakin sering marah-marah pada Dino. Apalagi sejak liburan sekolah, kebiasaan Dino semakin menjadi karena waktu luangnya semakin banyak untuk bermain sesuai keinginan Dino.”

Cuplikan kasus di atas merupakan salah satu permasalahan yang sering dihadapi dalam dunia orang tua. Mendisiplinkan anak adalah menjadi salah satu tugas yang tampaknya remeh namun membutuhkan energi yang besar. Pada awal masa anak-anak mereka melakukan sesuatu karena adanya larangan dari orang tua bukan karena adanya kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan adalah baik atau tidak. Dengan berakhirnya masa awal anak-anak maka perlu dibentuk kedisiplinan agar kepatuhan anak-anak dapat menetap dengan konsisten. Rice dalam bukunya Human Development mengungkapkan bahwa menerapkan disiplin pada awalnya adalah membaqngun control du luar diri anak namun setelah itu anak belajar untuk mendorong kemampuan control diri internalnya. Sehingga, anak sampai pada tahap bahwa mereka melakukan sesuatu bukan karena “harus” tetapi mereka sendiri “mau” melakukannya/ kehendak sendiri.

Pada usia ini orang tua perlu membangun sikap positif pada anak dengan memberikan tanggung jawab terhadap apa yang telah mereka lakukan. Strategi dalam melatih anak untuk disiplin paling tidak dapat membantu orang tua untuk mengatasi munculnya perilaku anak yang tidak dikehendaki (menyimpang) sehingga diharapkan dapat menciptakan kondisi yang kondusif. Salah satunya adalah dengan orang tua mau mengkomunikasikan apa yang menjadi peraturan di dalam rumah dengan membicarakannya dengan mereka sehingga tidak muncul perasaan diabaikan.

Tujuan dari disiplin adalah bukan hukuman, tetapi memberikan pelajaran kepada mereka untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan dan bagaimana akibat perilaku itu terhadap orang lain. Sejak kecil sampai dengan usia sebelum sekolah (preschool), Anda telah mengajari mereka bertanggung jawab dan mengontrol diri dengan memberikan peraturan. Namun, saat ini mereka telah masuk usia sekolah atau Sekolah Dasar (SD) yaitu telah siap dalam perkembangan memahami dan belajar bertanggung jawab.

Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan menyampaikan bahwa terdapat tiga unsur penting dalam disiplin yaitu peraturan dan hukum berfungsi sebagai pedoman bagi penilaian yang baik, hukuman bagi pelanggar peraturan, dan hadiah untuk perilaku yang baik. selama awal masa anak-anak yang harus ditekankan adalah aspek pendidikan dari disiplin dan hukuman hanya diberikan jika terbukti bahwa anak-anak dapat berperilaku social yang diharapkan.

Terdapat beberapa strategi disiplin dalam membantu perilaku anak sehari-hari;

1.Ceritakan atau sampaikan alasan terhadap anak Anda

Usia sekitar 7 tahun merupakan awal bagi anak-anak berpikir lebih logis. Hal ini berarti bahwa mereka sudah lebih memahami lingkungan sekitar. Dengan berkembanganya kemampuan ini, Anda dapat menggunakan alasan dan penjelasan lebih sering ketika mendisiplinkan mereka.

2.Bersikap tegas dan baik hati

Besikap tegas bukan berarti kaku dan mengekang. Dan juga berarti bahwa Anda harus berteriak atau pun mengancam. Bersikap tegas adalah dengan tetap menggunakan intonasi suara yang wajar sehingga anak Anda mengetahui bahwa Anda serius dengan apa yang Anda katakan. Strategi ini akan sangar efektif jika digunakan secara konsisten.

3.Menerapkan konsekuensi jika dibutuhkan

Anda perlu mengetahui apakah anak Anda paham terhadap peraturan dan konsekuensinya. Sehingga ketika peraturan dilanggar maka perilah konsekuensi atau hukuman sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya. Misalnya, jika terdapat peraturan untuk menjaga barang-barang dan meletakannya pada tempatnya dan suatu ketika suatu hari Anda melihat ia melempar remot TV sehingga rusak. Hukumannya adalah tidak memperbolehkan ia untuk menonton TV selama satu minggu. Hukuman atau konsekuensi yang diberikan haruslah konsisten.

4.Katakan “iya” jika perlu

Hindari kata tidak, lakukan dengan pendekatan yang lain. Misalnya, jika anak Anda ingin segera  menonton acara TV tetapi ia sedang mengerjakan PR-nya. Katakan “iya Tika. Kamu bisa nonton TV secepatnya kalau kamu segera menyelesaikan PR-mu”

Pendekatan dalam mendisiplinkan anak pada dasarnya adalah tetap memperhatikan perkembangan anak. Hukuman atau konsekuensi pun harus sesuai dengan peraturan yang telah dilanggarnya dan bukan pada hukuman fisik. Cara yang efektif untuk meningkatkan keinginan anak berperilaku social dengan baik adalah dengan memberikan hadiah. Satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah konsistensi dari perilaku disiplin orang tua. Tanpa disadari meskipin kita memiliki banyak peraturan bagi anak Anda tetapi ia melihat bahwa orang tuanya tidak disiplin maka akan semakin sulit untuk menerapkan disiplin padanya. Model atau contoh dari orang tua menjadi sangat penting dalam menerapkan strategi kedisiplinan.

Sumber:

Hurlock, Elizabeth B., 1994. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo. Erlangga. Jakarta.

Rice, F.P. 2001. Human Development: Life Span Approach. Prantice Hall. New Jersey.

One comment

  1. Broo…ijin nge-link yaa ket4ku…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: