Posts Tagged ‘Psikologi’

h1

OBSESI ORANG TUA ATAU CITA-CITA ANAK?

17/05/2010

”Saya ingin anak saya bisa menjadi seorang akuntan.” Ujar seorang Ayah yang memiliki anak perempuan di SMA kelas 3. Alasannya karena bidang pekerjaan ini banyak dibutuhkan oleh instansi baik pemerintah ataupun swasta.  Ia sangat menginginkan si anak nantinya tidak hidup sulit dan pekerjaan itu memiliki prestise yang tinggi dalam keluarganya atau kebanyakan anggota kelurganya adalah akuntan. Meskipun, ia sebenarnya menyadari bahwa anaknya ingin melanjutkan kuliah di fakultas keguruan yaitu bidang Bahasa Inggris dan tidak ingin menjadi akuntan.

Kasus diatas merupakan sekelumit cerita bagaimana interaksi anak dan orang tua ketika berhadapan dengan masalah pilihan jurusan. Proses tersebut merupakan peristiwa yang dihadapi setiap orang tua yang memiliki anak yang duduk di  kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa saat yang lalu telah dilaksanakan Ujian Akhir Nasional (UAN) pada siswa SMA. Meskipun belum ada pengumuman kelulusan, tetapi kelegaan telah menjalani proses UAN tentu dirasakan oleh siswa yang bersangkutan dan juga orang tua. UAN merupakan peristiwa penting bagi mereka untuk melangkah pada tahap yang lebih tinggi lagi. Tahap ini merupakan tahap dimana mereka memutuskan jalan karir yang ingin dipilih yaitu bekerja atau melanjutkan studi.

Setelah proses UAN, siswa dihadapkan pada sebuah tantangan yang jauh lebih besar yaitu mempersiapkan diri untuk bisa lolos seleksi perguruan tinggi sesuai dengan jurusan yang diminati. Setiap siswa yang ingin melanjutkan studi memiliki minat karir yang telihat dari jurusan kuliah yang akan diambilnya. Misalnya, memiliki cita-cita menjadi seorang akuntan maka memilih studi di Fakultas Ekonomi. Namun, proses pemilihan karir siswa ini tidak terlepas dari dukungan, masukan atau dorangan orang tua. Orang tua adalah sebagai salah satu rujukan yang paling dominan dan paling menjadi bahan pertimbangan bagi anak untuk memilih jurusan yang akan diambil.

Keberadaan orang tua menjadi hal yang penting bagi anak untuk melangkah pada tahap tersebut yaitu agar si anak dapat melewati fase ini dengan baik dan dengan pilihan yang tepat. Tetapi, kadangkala yang terjadi adalah orang tua seringkali malahan membuat dan menentukan tujuan karir si anak tanpa melihat potensi, minat atau pun bakat si anak. Seperti halnya yang terjadi pada ilustrasi di atas. Orang tua seakan-akan memiliki obsesi tersendiri terhadap si anak melalui pilihan jurusan si anak.

Perlu dipahami bahwa siswa SMA masuk pada tahap perkembangan remaja. Remaja adalah peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan.   Suatu masa yang mempengaruhi perkembangan dalam aspek sosial, emosi, dan fisik. Remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang mengarah pada persiapan memenuhi tuntutan dan peran sebagai orang dewasa. Pada tahap ini, salah satu tugas perkembangan remaja adalah memilih, mempersiapkan diri untuk menjalankan suatu pekerjaan, serta membuat keputusan karir. Pada masa ini yaitu tahap di SMA, siswa-siswi perlu diyakinkan bahwa apa yang dituntut oleh sekolah agar mereka pelajari dengan sungguh-sungguh bertujuan mengembangkan pengetahuan-ketrampilan yang segera dapat mereka terapkan atau gunakan dalam mengahadapi tugas kehidupan sehari-hari, termasuk melanjutkan belajar dijenjang yang lebih tinggi. Sehingga, siswa kemudian memahami keterkaitan antara tuntutan sekolah dengan masa depan mereka. Misalnya, mereka harus mempelajari mata pelajaran matematika karena ada kaitannya dengan kemampuan numerik jika misalnya akan memilih jurusan ekonomi..

Remaja mulai membuat rencana karir dengan eksplorasi dan mencari informasi berkaitan dengan karir yang diminati. Setelah remaja mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal (11 tahun – dewasa) yaitu tahap dimana mereka sudah dapat berpikir secara abstrak. Pada fase ini mereka mengeksplorasi berbagai alternatif ide dan jurusan dalam cara yang sistematis, misalnya jika ingin menjadi dokter maka harus memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Usia remaja dalam teori perkembangan karir Ginzberg  termasuk dalam tahap tentatif yaitu dengan usia 11–17 tahun. Tahapan usia ini adalah masa transisi dari tahap fantasi pada anak-anak menjadi pengambilan keputusan realistik pada remaja. Sejalan dengan perkembangan karir tersebut, proses karir telah muncul pada usia sekolah yaitu ketika anak-anak mulai mengembangkan minatnya dan adanya pemahaman keterkaitan antara kemampuan dengan karir dimasa depan.

Pada anak usia sekolah yaitu sejak sekolah dasar sampai sekolah lanjutan perlu mempelajari keseluruhan ketrampilan yang akan membantu dalam usaha membangun kehidupan masa depan. Karier adalah bagian hidup yang berpengaruh pada kebahagiaan hidup manusia secara keseluruhan. Oleh karenanya ketepatan memilih serta menentukan pilihan karier menjadi titik penting dalam perjalanan hidup manusia.

Besarnya minat remaja terhadap pendidikan sangat dipengaruhi oleh minat mereka terhadap pekerjaan. Jika remaja mengharapkan pekerjaan yang menuntut pendidikan yang tinggi maka pendidikan dianggap sebagai batu loncatan. Ketika siswa mampu mengenali pilihan pekerjaan yang diinginkan, maka mereka dapat menjalani pendidikan dengan efektif. Orientasi tentang jenis pekerjaan dimasa depan merupakan faktor penting yang mempengaruhi minat dan kebutuhan remaja yang akan menjalani pendidikan. Jadi, pada dasarnya dunia pendidikan bagi remaja dengan menentukan program pendidikan, fakultas maupun jurusan merupakan pemilihan pendahuluan atau awal dari dunia karir. Ketertarikan siswa terhadap sekolah dan pekerjaan dapat membantu atau memberikan kesempatan untuk mengembangkan minat, sehingga siswa mempunyai pandangan untuk menentukan arah pekerjaan nantinya.

Pilihan ini penting karena mempengaruhi diri siswa terhadap tuntutan pendidikan yang akan dihadapi dan kemungkinan kegagalan maupun keberhasilan dalam jurusan yang dipilihnya. Pilihan pendidikan yang dipersiapkan sejak awal memudahkan siswa dalam menentukan karir masa depannya. Pilihan tersebut diharapkan sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki sehingga proses pendidikan dan pekerjaan dapat berjalan dengan maksimal. Berdasarkan beberapa penelitian diketahui bahwa pilihan yang dibuat siswa dan terutama sekali pada saat memilih jenjang pendidikan mempunyai hubungan yang sangat kuat atau memberikan dampak jangka panjang dalam perkembangan pendidikan dan karir dikemudian hari.

Perlu dipahami bahwa tidak semua remaja dapat mengambil keputusan dengan mudah dan kebanyakan dari mereka mengalami episode kebingungan sebelum dapat menetapkan jalan karir. Proses eksplorasi karir dan pengambilan keputusan dapat membuat tekanan yang berkelanjutan dalam kehidupan remaja. Reaksi stres memungkinkan remaja memberikan tanggung jawabnya kepada orang lain dan bahkan menunda/ menghindar sehingga membuat keputusan yang tidak optimal.

Creed, Patton, dan Prideaux, (2006) di dalam jurnal penelitiananya mengungkapkan bahwa sebanyak 50 % siswa mengalami kebingungan dalam pengambilan keputusan. Salah satu faktornya adalah begitu banyak pilihan jenjang pendidikan dan jenis pekerjaan yang tersedia, serta kebutuhan untuk mengetahui nilai-nilai kehidupan serta tujuan apa yang dibutuhkan dalam pilihan karir tersebut. Selain itu, terbatasnya eksplorasi dan pengalaman pada role model karir maka minat dan aspirasi siswa berkaitan dengan bidang karir tertentu sering kali menjadi steriotipe, terbatas, dan tidak tetap/ berubah-ubah. Terbatasnya informasi berbagai pekerjaan yang ada dalam masyarakat tentunya membuat siswa menjadi berpikir atau memilih sesuai apa yang diketahui. Misalnya, dalam keluarga si remaja banyak yang berkerja di bidang kesehatan sehingga ia menemukan banyak informasi tentang pekerjaan tersebut dari berbagai arah dan bisa jadi ia memilih pekerjaan atau jurusan yang tidak jauh berbeda dari latar belakang keluarganya.

Pada saat episode kebingungan ini, orang tua melihat bahwa anak mereka tidak bisa membuat keputusan sehingga kemudian mengambil alih. Padahal yang dibutuhkan adalah pendampingan dan dorongan untuk mengidentifasi kemampuan, minat dan bakatnya dengan tepat. Oleh sebab itu, jika seorang anak yang memilih dan menjalani sebuah pilihan jurusan yang tidak sesuai dengan minat dan bakatnya atau memilih karena adanya paksaan dari pihak luar, misalnya dari orang tua mempunyai dampak negatif. Dampaknya antara lain menjalani studi dengan waktu yang lama atau tidak dapat menyelesaikan kuliah dengan baik (dengan nilai rendah atau pas-pasan).

Kondisi tersebut tentu tidak diharapkan oleh setiap orang tua yang ingin memberikan kebahagiaan pada anaknya. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai jenis pekerjaan-pekerjaan tertentu, dimana setiap pekerjaan  memiliki kekurangan dan kelebihananya. Meskipun dalam kehidupan kita bermasyarakat terdapat pekerjaan yang memberikan prestise yang tinggi tetapi bukan berarti memilih pekerjaan yang lain adalah sebuah mimpi buruk. Dalam perkembangan karir yang terpenting adalah bagaimana seorang anak mengerti, memahami dan menguasai bidang pilihannya sehingga dapat diaplikasikan dalam pekerjaannya dikemudian hari yang kemudian dapat memberikan kesuksesan tersendiri bagi si anak.

Oleh sebab itu, orang tua dalam proses ini memberikan kepercayaan kepada anak tetapi juga memfasilitasi proses perkembangan karir si anak. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengajak berdiskusi anak mengenai pilihan karirnya dan melakukan eksplorasi. Misalnya mencari tahu jurusan tertentu dengan lapangan pekerjaannya.
  • Fasilitasi perkembangan karir sejak dini, yaitu dimulai dengan mengetahui minat dan bakat anak. Sehingga, baik orang tua atau si anak tidak memilih jurusan baru sesaat akan lulus SMA. Jika demikian maka yang terjadi adalah memilih dengan terburu-buru dan kebingungan.
  • Mencari tahu potensi si anak untuk mengetahui kemampuan dasar si anak dengan melakukan konsultasi.
  • Mengarahkan si anak untuk lebih termotivasi dalam belajar
  • Memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada si anak dalam proses pilihan karir tersebut.
  • Pihak sekolah memfasilitasi kegiataan bagi siswa untuk mempertajam pemahaman mengenai jurusan dan berbagai jenis pekerjaan yang ada, misalnya dengan pameran pendidikan.
h1

MENGAPA ANAKKU TAK BISA KONSENTRASI?

11/05/2010

“ Rida berusia 7 tahun, saat ini ia duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Orang tuanya sering kali mendapatkan masukan dan laporan dari gurunya bahwa ia sering kali jalan-jalan di kelas, Rida lebih banyak berdiri dan tidak focus pada pekerjaan sekolahnya. Orang tuanya pun mengakui bahwa di rumah pun Rida seperti itu, Rida sering kali berganti-ganti aktivitas dan tidak pernah sampai selesai. Misalnya, bermain bongkar pasang yang hanya beberapa menit kemudian ia sudah beralih pada permainan yang lain. Sehingga, kondisi ini mempengaruhi prestasinya di sekolah. Rida sering kali sulit sekali dikontrol, ia sering mengabaikan apa yang Mamanya katakan”

Kasus Rida diatas adalah salah satu kasus yang terjadi pada anak-anak. Kadang kala sebagai orang dewasa, jika kita memperhatikan seorang anak yang berganti-ganti aktivitas kita memiliki asumsi bahwa anak itu mengalami kebosanan. Namun, perlu diperhatikan lebih seksama lagi apakah memang anak itu bosan atau ada hal lain yang terjadi padanya. Ketidakmampuan anak untuk menaruh perhatian terhadap berbagai aktivitas tentunya ini dapat menghampat perkembangan akademik dan perkembangan sosial anak. Hal ini dapat terjadi karena ia tidak dapat menyelesaikan tugas dengan penuh perhatian dan proses belajar yang terganggu. Oleh sebab itu sangat penting jika orang tua maupun pendidik dapat melakukan deteksi atau mengetahui lebih awal yang terjadi pada anak sehingga dapat dilakukan penanganan dengan tepat. Pada kasus Rida dan yang akan kita bicarakan lebih jauh merupakan sebuah ilustrasi mengenai Gangguan Pemusatan Perhatian atau Attention Deficit/ Hiperactivity (ADHD -red).

Apa itu ADHD?

ADHD adalah sebuah gangguan dengan karakteristik adanya gejala kurang perhatian yang diikuti dengan hiperaktivitas maupun tidak (Monastra, 2005). Seperti yang dijelaskan oleh Wenar (1994) dalam bukunya Developmental Psychopatology, terdapat karakteristik utama dari ADHD, antara lain;

Kurang perhatian : Anak-anak yang mengalami Gangguan Pemusatan Perhatian atau ADHD mengalami kesulitan untuk menaruh perhatian secara terus menerus dalam menyelesaikan tugas atau dalam aktivitas bermain. Seperti yang terjadi pada Rida, ia keluitan menaruh perhatian pada aktivitasnya bahkan ketika ia bermain. Kurang perhatian sering kali berkaitan dengan rendahnya performansi sekolah karena anak membutuhkan waktu untuk berkonsentrasi dan menyerap informasi sebaik menaruh perhatian yang cukup panjang untuk melangkapi tugas tanpa adanya gangguan. Kondisi dimana anak mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugasnya membuat mereka menjadi frustrasi dan tertekan.

Impulsif: dalam arti khususnya adalah bertindak tanpa ada pertimbangan tertentu. Ketika dihadapkan pada tugas yang kompleks, misalnya ketika tiba-tiba dalam pikiran mereka teradapat sebuah ide atau solusi tertentu, mereka tidak melakukan pertimbangan apapun apakah ide/ pemikiran/ perilaku mereka baik atau pun yang pantas. Mereka mengatakan sesuatu tanpa dipikirkan sehingga kadang kala memberikan jawaban yang tidak benar saat di kelas atau mereka mengalami kesulitan ambil bagian dalam sebuah permainan. Hal ini terjadi karena mereka mengalami kesulitan untuk mengatur reaksi diri terhadap rangsangan dari luar. Sangat sulit sekali jika kita melarang mereka untuk berhenti dari impulsivitasnya karena anak-anak dengan ADHD mengalami kesulitan untuk berhenti melihat, mendengar bahkan berpikir.

Hiperaktif: terdapat berbagai dasar yaitu anak-anak dengan ADHD lebih aktif dari pada anak-anak normal dalam waktu 24 jam bahkan saat tidur sekalipun. Mereka menunjukkan kegelisahan yang sangat besar dalam berbagai tugas sehingga mereka memperlihatkan gerakan-gerakan yang tidak relevan, tidak bertahan di tempat duduk mereka, bahkan selalu tidak bisa duduk dengan tenang seperti anak yang lainnya.

Apa saja gejala ADHD?

Menurut America Psychiatric Asociation pada tahun 2000 dalam Kearney (2006), gejala ADHD meliputi;

  • Kurang perhatian
  • Tidak dapat mengikuti instruksi dnegan baik
  • Menghindari tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental yang terus-menerus
  • Kehilangan barang
  • Mudah terganggu
  • Pelupa
  • Gelisah
  • Berpindah tempat duduk
  • Berlari-lari atau memanjat sesuatu
  • Berbicara yang berlebihan
  • Kesulitan jika harus menunggu
  • Sering menyela orang lain

Gejala ADHD biasanya terditeksi dibawah usia 7 tahaun dan perlu diketahui bersama bahwa gangguan ini tidak hilang dimakan usia. Artinya, bahwa hambatan ini akan dialami oleh seseorang sepanjang hidupnya.

Ketika mengetahui bahwa anak kita mengalami ADHD, dukungan dari keluarga adalah yang terpenting. Kondisi ini kadang kala membuat anak menjadi frustrasi karena karena kadang kala mereka sendiri tidak tahu apa sebenarnya terjadi. Banyak orang tua yang lari dari fakta bahwa anak mereka mengalami ADHD. Tapi tidak ada yang bisa disembunyikan karena perilaku yang sangat kentara. Misalnya dengan perilaku yang tidak relevan sepeti naik meja, tidak duduk dengan tenang sering kali muncul komentar dari orang lain “Kenapa orang tuanya tidak mengajari anak itu cara berperilaku yang baik?”.

Kadang kala mereka mendapat sebutan seperti anak nakal, troublemaker atau berbagai sebutan yang sangat merusak konsep diri. Hal yang berat bagi orang tua ketika harus berbagi dengan orang lain bahwa anak mereka mengalami ADHD, namun dengan berbagi informasi dengan orang lain terutama orang terdekat dalam hidup si anak, misalnya saudara kandung, guru atau anggota keluarga lainnya. Anak akan mendapatkan dukungan yang jauh lebih besar dan ini yang membantu mereka berkembang lebih baik.

Sumber:

Wenar, Charles. 1994. Developmental Psychopatology Third Edition. Mc Graw-Hill, Inc. United State of America.

Kerney, Christhoper A. 2006. Casebook in Child Behavior Disorder: Third Edition. Thomsom. Canada.

Monastra, Vincent J. 2004. Parenting Children with ADHD. American Psychological Association. Washington DC.

h1

BULLYING: KEKERASAN TEMAN SEBAYA DIBALIK PILAR SEKOLAH

11/05/2010

Waspada bagi Orang tua dan Guru

Suatu hari ketika hendak berangkat sekolah, Rinto mengeluh sakit kepala, mual, dan sakit perut. Ia menolak untuk masuk sekolah karena sakit. Pada saat Rinto dibawa ke dokter, dokter tidak menemukan gejala penyakit dan setelah beberapa jam di rumah Rinto tampak baik-baik saja, seperti tidak sakit sedikitpun. Apakah Rinto berbohong untuk tidak masuk sekolah?

Peristiwa yang dialami Rinto adalah sebuah gejala yang harus diwaspadai oleh kita bersama. Apalagi jika terjadi ketika hendak masuk sekolah dan terjadi berulang-ulang kali. Tanda ini akan semakin jelas jika ada perubahan yang sangat signifikan pada anak, misalnya pada awalnya ia sangat menyukai sekolah tetapi kemudian ia sangat tidak ingin ke sekolah. Ada sesuatu di sekolah yang menjadi momok yang menakutkan bagi anak dan ini perlu digali lebih jauh. Salah satu penyebab yang biasanya terjadi adalah adanya kekerasan antar sesama teman atau yang biasa dikenal dengan istilah bullying.

Fenomena kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya di Indonesia semakin lama semakin banyak bermunculan. Mulai dari peristiwa IPDN (Institut Pemerintahan dalam Negeri) dengan klimks kejadian meninggalnya Praja Clifft Muntu akibat dianiaya oleh seniornya di lingkungan kampus, kasus seorang siswi SLTP di Bekasi yang gantung diri karena tidak kuat menerima ejekan teman-temannya sebagai anak tukang bubur. Bahkan yang terbaru adalah peristiwa STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) yang juga memakan korban, Agung Bastian Gultom yang meninggal dunia akibat dianiaya oleh seniornya. Atau bahkan Genk Nero dari Pati yang terdiri dari kumpulan anak-anak perempuan yang melakukan kekerasan terhadap teman sebayanya. Ini adalah sekelumit peristiwa bullying yang berada di lingkungan akademisi yang harus bersama-sama kita waspadai.

Bullying merupakan permasalahan yang sudah mendunia, tidak hanya menjadi permasalahan di Indonesia saja tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang. Dari data National Mental Health and Education Center tahun 2004 di Amerika diperoleh data bahwa bullying merupakan bentuk kekerasan yang umumnya terjadi dalam lingkungan sosial antara 15% dan 30% siswa adalah pelaku bullying dan korban bullying.

Kita sering melihat aksi anak-anak mengejek, mengolok-olok atau mendorong teman yang lainnya. Perilaku tersebut sampai saat ini dianggap hal yang sangat biasa, hanya sebatas bentuk relasi sosial antar anak saja padahal hal tersebut sudah pada bentuk perilaku bullying. Namun, kita sangat tidak menyadari konsekuensi yang terjadi jika anak mengalami bullying. Oleh sebab itu berbagai pihak harus bisa memahami apa dan bagaimana bullying itu sehingga dapat secara komprehensif melakukan pencegahan pada akibat yang tidak diinginkan.

Bullying;

Bullying adalah pengalaman yang biasa dialami oleh banyak anak-anak dan remaja di sekolah. Perilaku bullying dapat berupa ancaman fisik atau verbal. Bullying adalah terdiri dari perilaku langsung seperti mengejek, mengancam, mencela, memukul, dan merampas yang dilakukan oleh satu atau lebih siswa kepada korban atau anak yang lain. Selain itu bullying juga dapat berupa perilaku tidak langsung misalnya, dengan mengisolasi atau dengan sengaja menjauhkan seseorang yang dianggap berbeda. Baik bullying langsung maupun tidak langsung pada dasarnya bullying adalah bentuk intimidasi fisik ataupun psikologis yang terjadi berkali-kali dan secara terus menerus membentuk pola kekerasan.

Bentuk-bentuk bullying, antara lain;

  1. Bullying secara fisik: menarik rambut, meninju, memukul, mendorong, menusuk.
  2. Bullying secara emosional: menolak, meneror, mengisolasi atau menjauhkan, menekan, memeras, memfitnah, menghina, dan adanya diskriminasi berdasarkan ras, ketidakmampuan, dan etnik.
  3. Bullying secara verbal: memberikan nama panggilan, mengejek, dan menggosip.
  4. Bullying secara seksual: ekshibisionisme, berbuat cabul, dan adanya pelecehan seksual.

Mengapa beberapa anak dan remaja bisa menjadi pelaku bullying?

Bully atau pelaku bullying adalah seseorang yang secara langsung melakukan agresi baik fisik, verbal atau psikologis kepada orang lain dengan tujuan untuk menunjukkan kekuatan atau mendemonstrasikan pada orang lain.  Kebanyakan perilaku bullying berkembang dari berbagai faktor lingkungan yang kompleks. Tidak ada faktor tunggal menjadi penyebab munculnya bullying. Faktor penyebab antara lain:

  • Faktor keluarga : Anak yang melihat orang tuanya atau saudaranya melakukan bullying sering akan mengembangkan perilaku bullying juga. Ketika anak menerima pesan negatif berupa hukuman fisik di rumah, mereka akan mengembangkan konsep diri dan harapan diri yang negatif, yang kemudian dengan pengalaman tersebut mereka cenderung akan lebih dulu meyerang orang lain sebelum mereka diserang. Bullying dimaknai oleh anak sebagai sebuah kekuatan untuk melindungi diri dari lingkungan yang mengancam.
  • Faktor sekolah : Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi anak-anak yang lainnya. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah yang sering memberikan masukan yang negatif pada siswanya misalnya, berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah.
  • Faktor kelompok sebaya: Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman sekitar rumah kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Kadang kala beberapa anak melakukan bullying pada anak yang lainnya dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.

Bagaimana dengan mereka korban bullying?

Korban bullying atau victim adalah seseorang yang berulangkali mendapatkan perlakuan agresi dari kelompok sebaya baik dalam bentuk serangan fisik, atau serangan verbal, atau bahkan kekerasan psikologis. Biasanya mereka yang menjadi korban bullying pada kelompok laki-laki adalah mereka yang lemah secara fisik dibandingkan dengan kelompok sebayanya. Mereka yang menjadi korban bullying, menurut penelitian adalah kebanyakan dari keluarga atau sekolah yang overprotective sehingga si anak/siswa tidak dapat mengembangkan secara maksimal kemampuan untuk memecahkan masalah (coping skill). Menurut Ron Banks dalam artikelnya Bullying In School pada tahun 1997, mengungkapkan bahwa siswa sebagai korban bullying sering menunjukkan beberapa gejala misalnya cemas, merasa selalu tidak aman, sangat berhati-hati, dan mereka menunjukkan harga diri yang rendah (low self-estem). Mereka juga memiliki interaksi sosial yang rendah dengan teman-temannya, kadangkala mereka termasuk anak yang diisolasi oleh teman sebayanya.

Apa yang terjadi dibalik bullying?

Konsekuensi adalah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana dan apa yang bisa terjadi dibalik perilaku bullying ini. Pada artikel Ron Banks pada tahun 1997 dipaparkan sebuah penelitian di Scandinavian bahwa ada kolesi yang kuat antara bullying yang dilakukan oleh siswa selama beberapa tahun sekolah dimana mereka kemudian menjadi pelaku kriminal saat dewasa. Ini adalah sebuah penelitan yang memberikan gambaran bagaimana bullying bisa membentuk sebuah kepribadian yang menempatkan seorang anak pada perjalanan dan pengalaman hidup yang kelam.

Sedangkan mereka sebagai korban bullying sering mengalami ketakutan untuk sekolah dan menjadi tidak percaya diri, merasa tidak nyaman, dan tidak bahagia. Aksi bullying menyebabkan seseorang menjadi terisolasi dari kelompok sebayanya karena teman sebaya korban bullying tidak mau akhirnya mereka menjadi target bullying karena mereka berteman dengan korban.

Apa yang perlu dilakukan?

Bullying sudah menjadi masalah global yang kemudian tidak bisa kita abaikan lagi. Banyak hal yang harus bisa kita lakukan untuk meyelamatkan perkembangan psikologis anak-anak dan remaja kita. Kekerasan sejak dini bukan merupakan bagian dari perkembangan psikologis mereka, oleh sebab itu banyak elemen harus ikut terlibat, baik orang tua, pihak sekolah, bahkan pemerintah. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Orang tua membiasakan diri memberikan feedback positif bagi anak sehingga mereka belajar untuk berperilaku sosial yang baik dan mereka mendapatkan model interaksi yang tepat bukan seperti perilaku bullying dan agresi. Kemudian, menggunakan alternatif hukuman bagi anak dengan tidak melibatkan kekerasan fisik maupun psikologis. Selain itu, orang tua mau menjalin relasi dengan sekolah untuk berkonsultasi jika anaknya baik sebagai pelaku bullying ataupun korban.
  • Pihak sekolah menciptakan lingkungan yang positif misalnya dengan adanya praktik pendisiplinan yang tidak menggunakan kekerasan. Selain itu juga, meningkatkan kesadaran pihak sekolah untuk tidak mengabaikan keberadaan bullying. Bullying harus dihentikan!
h1

Bagaimana Prestasi Anak Remaja Anda? antara underachiever dan overachiever

04/05/2010

Awal remaja biasanya sebagai usia belasan. Pada usia ini remaja muda memiliki minat pribadi yang cukup menonjol yaitu salah satunya adalah minat berprestasi. Prestasi yang baik dapat memberikan kepuasan pribadi dan ketenaran. Inilah sebabnya mengapa prestasi baik dalam olah raga, tugas-tugas sekolah maupun pelbagai kegiatan sekolah, menjadi yang kuat sepanjang masa remaja. Remaja usia sekolah menengah dan sekolah lanjutan adalah merupakan masa transisi.

Bila mendapat prestasi yang baik diharapkan dapat memberikan kepuasan bagi remaja, Prestasi itu mencakup bidang-bidang yang penting bagi kelompok sebaya dan dapat menimbulkan harga diri dalam pandangan kelompok sebaya. Misalnya, kalau teman-teman menaruh minat pada keberhasilan akademik maka nilai-nilai akademik yang tinggi merupakan prestasi yang memuaskan. Tetapi sebaliknya bila prestasi tidak dihubungkan dengan nilai akademis yang baik melainkan dengan keberhasilan dalam atletik maka prestasi akademik tidak memuasakan bagi remaja.

Prestasi (Achievement-red), adalah salah satu tingkat khusus dari kesuksesan karena mempelajari tugas-tugas atau tingkat tertentu dari kecakapan/ keahlian dalam tugas sekolah/akademis. Dalam pendidikan atau akademis, prestasi merupakan tingkat khusus perolehan/ hasil keahlian dalam karya akademis yang dinilai guru-guru melalui tes yang dibakukan atau melalui kombinasi kedua hal tersebut.

Huffman dan kawan-kawan dalam bukunya Psychology In Action mengungkapkan bahwa terdapat karakteristik orang-orang pencapai prestasi, adalah;

1.Orang yang memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi lebih memilih tugas yang menantang. Mereka menghindari pekerjaan yang terlalu mudah karena mereka membutuhkan tantangan

2.Orang yang memiliki orientasi berprestasi yang tinggi lebih tertarik dengan pekerjaan atau tugas yang membutuhkan persaingan dan kesempatan lebih tinggi.

3.Orang yang memiliki orientasi berprestasi yang tinggi lebih memilih tugas yang jelas berguna

4.Orang yang mempunyai kebutuhan berprestasi yang tinggi ingin menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap tugas.

5.Orang yang berorientasi berprestasi tinggi lebih mampu bertahan pada tugas yang semakin sulit

6.Orang yang mempunyai prestasi tinggi melakukan sesuatu lebih baik dari yang lain.

Perlu dipahami bahwa hal tersebut mempengaruhi prestasi belajar sama halnya dengan inteligensi. Salah satu konsep yang pernah disampaikan bahwa keberhasilan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bersumber dari faktor internal dan eksternal. Interaksi antara berbagai faktor tersebutlah yang menjadi determinan atau penentu bagaimana hasil akhir proses belajar yang dialami oleh individu.

Karakteristik individu yang digolongkan sebagai superior secara akademis, dikemukakan dalam bentuk sifat intelektual sebagai berikut;

a.Kemampuan dalam belajar

Cermat dalam mengamati situasi sosial dan alamiah, independen, cepat, dan efesien dalam mempelajari fakta dan prinsip-prinsip, cepat faham dalam membaca disertai oleh daya ingat yang superior.

b.Kekuatan dan kepekaan fikiran

Siap mengungkap prinsip-prinsip yang mendasari sesuatu seperti apa adanya, kepekaan terhadap interferensi terhadap fakta, konsekuensi suatu proposisi, penerapan suatu gagasan.

c.Keingintahuan dan dorongan-dorongan

Ketahanan mental, keteguhan pada tujuan, ulet, kadang-kdang menolak aturan, mampu melakukan rencana-rencana dengan ekstensif tapi bermakna. Ingin tahu segala hal, minat instrinsik dalam hal yang sulit dan menantang, berminat dan pandai dalam banyak hal, bosan akan rutinitas.

Seseorang yang memperoleh hasil atau prestasi yang melampaui peramalan, yang dibuat berdasarkan kecerdasan, ketangkasan dan bakat disebut dengan Overachiever. Artinya bahwa ketika misalnya potensi siswa berada pada taraf rat-rata namun performansi akademiknya diatas kemampuannya maka ia disebut sebgai overachiever. Oleh karena itu, keberhasilan berprestasi merupakan salah satu hasil dari seseorang melakukan usaha apakah hal tersebut dibawah kemampuannya ataupun diatas kemampuannya yang sebenarnya. Beberapa siswa yang sukses diperoleh bahwa terdapat beberapa faktor yang memperngaruhi kesuksesan mereka di sekolah, antara lain;

•Dorongan dari orang tua

•Dorongan dari lingkungan rumah

Salah satu hal yang menjadi permasalahan pada anak didik adalah kondisi pencapaian prestasi di bawah potensinya yang seringkali dikenal dengan istilah underachiever. Underachiever adalah seseorang yang tidak dapat mencapai hasil sesuai dengan tingkat yang ditujukan oleh bakatnya. Underachiever terlihat dari kemampuan membaca pada level rata-rata atau dibawah rata-rata dan tidak memiliki motivasi, tidak matang, agresivitas pasif.

Ditemukan pada orang tua siswa di kelas 11 dan 12 yang berasal dari kelas social menengah terdapat pola-pola yang memberikan kontribusi pada akademik underachiever:

1.Orang tua yang berkonflik; orang tua yang menolek pada pengurusan anak

2.Pengasuhan orang tua yang berbeda; orang tua tidak mempunyai konsistensi, batas atau standard an menunjukan rasa tertarik yang sediikit.

3.Orang tua yang over protected ; orang tua yang perfectionis, mendominasi, terlalu mengarahkan, terlalu ketat, secara konstan anak harus melakukan yang terbaik

4.Standar yang tinggi; orang tua sering mengkritik, menekan remaja untuk mendapat nilai yang baik.

Upaya untuk membantu anak dengan kondisi ini adalah dengan memberikan motivasi eksternal dengan cara mengingatkan dan menjelaskan konsekuensi posif dan negatifnya dari apa yang dilakukannya sekarang Apalagi anak remja adalah usia dimana mereka sangat mudah terpengaruh sehingga performansi akademiknya bisa jadi mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar baik secara positif maupun negatif. Sehingga, dukungan atau dorongan dari orang lain misalnya orang tua, teman sebya, atau guru merupakan hal yang sangat penting sebagai salah satu faktor untuk membantu mereka untuk meningkatkan performansi akademik.

Sumber:

Azwar, Saifudin.(2002). Pengantar Psikologi Inteligensi.Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Chaplin, JP.(2001). Kamus Psikologi.Terjemahan: Kartini Kartono. Raja Grasindo Persada: Jakarta Utara.

Huffman, Karen., Vernoy,Mark.&Vernoy,Judith.(1997).Psychology In Action.John Wiley: New York.

Hurlock, B.Elizabeth.(1999).Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.Erlangga: Jakarta

Rice, Philpe.(2001). Human Development A life Sapan Approach Fourth Edition. Prentice Hall; London

Santrocks, John W.(1995).Life-Span Development; Perkembangan Masa Hidup.Erlangga;Jakarta.

Satter,Jerome.(1995). Assesment of Children Third Edition. Jerome M. Sattler Pub; London.

h1

Mengajari Disiplin Anak Sejak Dini

04/05/2010

“Setiap hari Dino, 7 tahun selalu menghabiskan waktu di depan TV selama 5 jam. Ibunya sudah kehabisann akal untuk mengatur kegiatan Dino agar lebih terarah. Ia merasa bahwa anaknya tidak dapat disiplin. Waktu bermain, nonton TV bahkan belajar tidak teratur dan kadang kala membuatnya semakin sering marah-marah pada Dino. Apalagi sejak liburan sekolah, kebiasaan Dino semakin menjadi karena waktu luangnya semakin banyak untuk bermain sesuai keinginan Dino.”

Cuplikan kasus di atas merupakan salah satu permasalahan yang sering dihadapi dalam dunia orang tua. Mendisiplinkan anak adalah menjadi salah satu tugas yang tampaknya remeh namun membutuhkan energi yang besar. Pada awal masa anak-anak mereka melakukan sesuatu karena adanya larangan dari orang tua bukan karena adanya kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan adalah baik atau tidak. Dengan berakhirnya masa awal anak-anak maka perlu dibentuk kedisiplinan agar kepatuhan anak-anak dapat menetap dengan konsisten. Rice dalam bukunya Human Development mengungkapkan bahwa menerapkan disiplin pada awalnya adalah membaqngun control du luar diri anak namun setelah itu anak belajar untuk mendorong kemampuan control diri internalnya. Sehingga, anak sampai pada tahap bahwa mereka melakukan sesuatu bukan karena “harus” tetapi mereka sendiri “mau” melakukannya/ kehendak sendiri.

Pada usia ini orang tua perlu membangun sikap positif pada anak dengan memberikan tanggung jawab terhadap apa yang telah mereka lakukan. Strategi dalam melatih anak untuk disiplin paling tidak dapat membantu orang tua untuk mengatasi munculnya perilaku anak yang tidak dikehendaki (menyimpang) sehingga diharapkan dapat menciptakan kondisi yang kondusif. Salah satunya adalah dengan orang tua mau mengkomunikasikan apa yang menjadi peraturan di dalam rumah dengan membicarakannya dengan mereka sehingga tidak muncul perasaan diabaikan.

Tujuan dari disiplin adalah bukan hukuman, tetapi memberikan pelajaran kepada mereka untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan dan bagaimana akibat perilaku itu terhadap orang lain. Sejak kecil sampai dengan usia sebelum sekolah (preschool), Anda telah mengajari mereka bertanggung jawab dan mengontrol diri dengan memberikan peraturan. Namun, saat ini mereka telah masuk usia sekolah atau Sekolah Dasar (SD) yaitu telah siap dalam perkembangan memahami dan belajar bertanggung jawab.

Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan menyampaikan bahwa terdapat tiga unsur penting dalam disiplin yaitu peraturan dan hukum berfungsi sebagai pedoman bagi penilaian yang baik, hukuman bagi pelanggar peraturan, dan hadiah untuk perilaku yang baik. selama awal masa anak-anak yang harus ditekankan adalah aspek pendidikan dari disiplin dan hukuman hanya diberikan jika terbukti bahwa anak-anak dapat berperilaku social yang diharapkan.

Terdapat beberapa strategi disiplin dalam membantu perilaku anak sehari-hari;

1.Ceritakan atau sampaikan alasan terhadap anak Anda

Usia sekitar 7 tahun merupakan awal bagi anak-anak berpikir lebih logis. Hal ini berarti bahwa mereka sudah lebih memahami lingkungan sekitar. Dengan berkembanganya kemampuan ini, Anda dapat menggunakan alasan dan penjelasan lebih sering ketika mendisiplinkan mereka.

2.Bersikap tegas dan baik hati

Besikap tegas bukan berarti kaku dan mengekang. Dan juga berarti bahwa Anda harus berteriak atau pun mengancam. Bersikap tegas adalah dengan tetap menggunakan intonasi suara yang wajar sehingga anak Anda mengetahui bahwa Anda serius dengan apa yang Anda katakan. Strategi ini akan sangar efektif jika digunakan secara konsisten.

3.Menerapkan konsekuensi jika dibutuhkan

Anda perlu mengetahui apakah anak Anda paham terhadap peraturan dan konsekuensinya. Sehingga ketika peraturan dilanggar maka perilah konsekuensi atau hukuman sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya. Misalnya, jika terdapat peraturan untuk menjaga barang-barang dan meletakannya pada tempatnya dan suatu ketika suatu hari Anda melihat ia melempar remot TV sehingga rusak. Hukumannya adalah tidak memperbolehkan ia untuk menonton TV selama satu minggu. Hukuman atau konsekuensi yang diberikan haruslah konsisten.

4.Katakan “iya” jika perlu

Hindari kata tidak, lakukan dengan pendekatan yang lain. Misalnya, jika anak Anda ingin segera  menonton acara TV tetapi ia sedang mengerjakan PR-nya. Katakan “iya Tika. Kamu bisa nonton TV secepatnya kalau kamu segera menyelesaikan PR-mu”

Pendekatan dalam mendisiplinkan anak pada dasarnya adalah tetap memperhatikan perkembangan anak. Hukuman atau konsekuensi pun harus sesuai dengan peraturan yang telah dilanggarnya dan bukan pada hukuman fisik. Cara yang efektif untuk meningkatkan keinginan anak berperilaku social dengan baik adalah dengan memberikan hadiah. Satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah konsistensi dari perilaku disiplin orang tua. Tanpa disadari meskipin kita memiliki banyak peraturan bagi anak Anda tetapi ia melihat bahwa orang tuanya tidak disiplin maka akan semakin sulit untuk menerapkan disiplin padanya. Model atau contoh dari orang tua menjadi sangat penting dalam menerapkan strategi kedisiplinan.

Sumber:

Hurlock, Elizabeth B., 1994. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo. Erlangga. Jakarta.

Rice, F.P. 2001. Human Development: Life Span Approach. Prantice Hall. New Jersey.

h1

Pentingnya Ketrampilan Sosial Bagi Anak

04/05/2010

“Sepulang sekolah Dita terlihat cemberut di kamarnya. Ia sedih karena ia merasa tidak mempunyai teman setelah seminggu sekolah di sekolah barunya. Dita saat ini duduk di kelas satu Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Yogyakarta”

Pengalaman Dita hanya merupakan salah satu ilustrasi bagaimana seorang anak membutuhkan kehadiran teman-temannya dalam keseharian. Pengalaman menjalin pertemanan tidak hanya terjadi saat anak pertama kali masuk ke sekolah, namun diberbagai situasi baru misalnya pindah ke tempat yang baru, hadir ke tempat acara kerabat dan lain-lain.

Pada dasarnya anak-anak usia sekolah dasar merupakan usia berkelompok yaitu ditandai dengan minat yang tinggi terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok, dan merasa tidak puas jika tidak bersama teman-temannya. Anak-anak akan merasa sangat sedih jika seharusnya ia terlibat dengan banyak teman, ia malahan tidak mempunyai teman untuk berbagi. Oleh sebab itu, orang tua harus peka dengan kondisi disaat si anak mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman atau adanya hambatan ketrampilan sosial.

Ketrampilan sosial pada anak merupakan salah satu hal penting dalam membantu anak untuk bisa mempunyai teman dan berinteraksi dengan orang lain. Ketrampilan sosial ini membantu perkembangan anak dalam menjalani tugas perkembangannya. Kadang kala kita sebagai orang tua hanya mendampingi anak dengan fokus pada kemampuan anak di sekolah misalnya dalam membaca, mengerjakan soal atau kemampuan di sekolah yang lainnya. Namun, kita menghabiskan waktu yang sedikit sekali untuk mengajarkan ketrampilan sosial pada mereka. Orang tua menganggap bahwa kerampilan itu akan berjalan dan berkembang dengan sendirinya tanpa perlu pendampingan. Oleh sebab itu, orang tua perlu melakukan pendampingan agar si anak dapat meningkatkan ketrampilan sosialnya dan juga merasa mendapatkan dukungan yang besar untuk berani terlibat dalam interaksi sosial. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain;

a.Jangan panik

Tidak semua anak mudah terlibat dalam interaksi dengan orang lain, beberapa anak membutuhkan waktu untuk mau terlibat dengan orang lain. Sehingga, jangan terlalu panik dan terburu-buru ketika anak anda masih terlihat takut pertama kali mengenal orang lain.

b.Mendengarkan

Ketika anak Anda mengalami masalah dalam interaksinya baik di sekolah atau pun dilingkungan tetangganya. Dengarkan dulu permasalahan yang dihadapinya jangan langsung pada pemecahan masalahnya karena kadang kala mereka hanya butuh didengarkan untuk meluapkan rasa kesal.

c.Melibatkan dalam aktivitas ekstrakulikuler

Jika disekolah terdapat kegiatan ekstrakulikuler, dorong anak Anda untuk terlibat di dalamnya karena anak Anda dapat berbagi dengan anak yang lain dengan minat yang sama.

d.Berbagi makanan dengan teman sebelah

Mengajari anak untuk berbagi dengan teman merupakan salah satu langkah yang sederhana. Dengan berbagi makanan dengan teman sebelah akan membantu anak dalam mencairkan suasana

e.Mengijinkan anak Anda mengajak temannya ke rumah

Katakan kepada anak Anda bahwa ia boleh mengajak temannya datang ke rumah untuk bermain atau bahkan belajar. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk membangun hubungan anak Anda dengan temannya secara lebih intensif.

f.Mengatur kegiatan-kegiatan sosial dalam jadwal keluarga

Aturlah jadwal keluarga Anda dalam kegiatan sosial atau kegiatan kemasyarakatan, misalnya mengikuti lomba tujuh belasan. Kegiatan ini memfasilitasi anak Anda untuk belajar berinteraksi dengan orang lain dan memberikan banyak wawasan.

g.Observasi perilaku anak Anda

Apakah perilaku anak Anda yang menjadi masalah sehingga ia sulit mendapatkan teman atau interaksi dengan teman? Hal ini perlu diperhatikan dengan mengamati perilakunya ketika bersama orang lain. Apakah ia terlalu egois, atau terlalu malu? Jika itu yang Anda temukan, ajaklah dia berdiskusi mengenai apa yang sebaiknnya dilakukan.

Pada dasarnya anak-anak mempunyai kebutuhan yang besar untuk berinteraksi dengan teman sekelompoknya. Namun, tidak selalu mereka mendapatkan situasi yang mudah untuk dilalui bahkan dipahami oleh mereka sendiri. Orang tua harus menjadi motor yang positif bagi anak sehingga dapat membantu perkembangan ketrampilan sosial anak dan sekaligus membantu perkembangan psikologis anak menjadi lebih optimal.

Sumber:

Hurlock, Elizabeth B., 1994. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo. Erlangga. Jakarta.

Rice, F.P. 2001. Human Development: Life Span Approach. Prantice Hall. New Jersey.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers