h1

OBSESI ORANG TUA ATAU CITA-CITA ANAK?

17/05/2010

”Saya ingin anak saya bisa menjadi seorang akuntan.” Ujar seorang Ayah yang memiliki anak perempuan di SMA kelas 3. Alasannya karena bidang pekerjaan ini banyak dibutuhkan oleh instansi baik pemerintah ataupun swasta.  Ia sangat menginginkan si anak nantinya tidak hidup sulit dan pekerjaan itu memiliki prestise yang tinggi dalam keluarganya atau kebanyakan anggota kelurganya adalah akuntan. Meskipun, ia sebenarnya menyadari bahwa anaknya ingin melanjutkan kuliah di fakultas keguruan yaitu bidang Bahasa Inggris dan tidak ingin menjadi akuntan.

Kasus diatas merupakan sekelumit cerita bagaimana interaksi anak dan orang tua ketika berhadapan dengan masalah pilihan jurusan. Proses tersebut merupakan peristiwa yang dihadapi setiap orang tua yang memiliki anak yang duduk di  kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa saat yang lalu telah dilaksanakan Ujian Akhir Nasional (UAN) pada siswa SMA. Meskipun belum ada pengumuman kelulusan, tetapi kelegaan telah menjalani proses UAN tentu dirasakan oleh siswa yang bersangkutan dan juga orang tua. UAN merupakan peristiwa penting bagi mereka untuk melangkah pada tahap yang lebih tinggi lagi. Tahap ini merupakan tahap dimana mereka memutuskan jalan karir yang ingin dipilih yaitu bekerja atau melanjutkan studi.

Setelah proses UAN, siswa dihadapkan pada sebuah tantangan yang jauh lebih besar yaitu mempersiapkan diri untuk bisa lolos seleksi perguruan tinggi sesuai dengan jurusan yang diminati. Setiap siswa yang ingin melanjutkan studi memiliki minat karir yang telihat dari jurusan kuliah yang akan diambilnya. Misalnya, memiliki cita-cita menjadi seorang akuntan maka memilih studi di Fakultas Ekonomi. Namun, proses pemilihan karir siswa ini tidak terlepas dari dukungan, masukan atau dorangan orang tua. Orang tua adalah sebagai salah satu rujukan yang paling dominan dan paling menjadi bahan pertimbangan bagi anak untuk memilih jurusan yang akan diambil.

Keberadaan orang tua menjadi hal yang penting bagi anak untuk melangkah pada tahap tersebut yaitu agar si anak dapat melewati fase ini dengan baik dan dengan pilihan yang tepat. Tetapi, kadangkala yang terjadi adalah orang tua seringkali malahan membuat dan menentukan tujuan karir si anak tanpa melihat potensi, minat atau pun bakat si anak. Seperti halnya yang terjadi pada ilustrasi di atas. Orang tua seakan-akan memiliki obsesi tersendiri terhadap si anak melalui pilihan jurusan si anak.

Perlu dipahami bahwa siswa SMA masuk pada tahap perkembangan remaja. Remaja adalah peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan.   Suatu masa yang mempengaruhi perkembangan dalam aspek sosial, emosi, dan fisik. Remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang mengarah pada persiapan memenuhi tuntutan dan peran sebagai orang dewasa. Pada tahap ini, salah satu tugas perkembangan remaja adalah memilih, mempersiapkan diri untuk menjalankan suatu pekerjaan, serta membuat keputusan karir. Pada masa ini yaitu tahap di SMA, siswa-siswi perlu diyakinkan bahwa apa yang dituntut oleh sekolah agar mereka pelajari dengan sungguh-sungguh bertujuan mengembangkan pengetahuan-ketrampilan yang segera dapat mereka terapkan atau gunakan dalam mengahadapi tugas kehidupan sehari-hari, termasuk melanjutkan belajar dijenjang yang lebih tinggi. Sehingga, siswa kemudian memahami keterkaitan antara tuntutan sekolah dengan masa depan mereka. Misalnya, mereka harus mempelajari mata pelajaran matematika karena ada kaitannya dengan kemampuan numerik jika misalnya akan memilih jurusan ekonomi..

Remaja mulai membuat rencana karir dengan eksplorasi dan mencari informasi berkaitan dengan karir yang diminati. Setelah remaja mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal (11 tahun – dewasa) yaitu tahap dimana mereka sudah dapat berpikir secara abstrak. Pada fase ini mereka mengeksplorasi berbagai alternatif ide dan jurusan dalam cara yang sistematis, misalnya jika ingin menjadi dokter maka harus memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Usia remaja dalam teori perkembangan karir Ginzberg  termasuk dalam tahap tentatif yaitu dengan usia 11–17 tahun. Tahapan usia ini adalah masa transisi dari tahap fantasi pada anak-anak menjadi pengambilan keputusan realistik pada remaja. Sejalan dengan perkembangan karir tersebut, proses karir telah muncul pada usia sekolah yaitu ketika anak-anak mulai mengembangkan minatnya dan adanya pemahaman keterkaitan antara kemampuan dengan karir dimasa depan.

Pada anak usia sekolah yaitu sejak sekolah dasar sampai sekolah lanjutan perlu mempelajari keseluruhan ketrampilan yang akan membantu dalam usaha membangun kehidupan masa depan. Karier adalah bagian hidup yang berpengaruh pada kebahagiaan hidup manusia secara keseluruhan. Oleh karenanya ketepatan memilih serta menentukan pilihan karier menjadi titik penting dalam perjalanan hidup manusia.

Besarnya minat remaja terhadap pendidikan sangat dipengaruhi oleh minat mereka terhadap pekerjaan. Jika remaja mengharapkan pekerjaan yang menuntut pendidikan yang tinggi maka pendidikan dianggap sebagai batu loncatan. Ketika siswa mampu mengenali pilihan pekerjaan yang diinginkan, maka mereka dapat menjalani pendidikan dengan efektif. Orientasi tentang jenis pekerjaan dimasa depan merupakan faktor penting yang mempengaruhi minat dan kebutuhan remaja yang akan menjalani pendidikan. Jadi, pada dasarnya dunia pendidikan bagi remaja dengan menentukan program pendidikan, fakultas maupun jurusan merupakan pemilihan pendahuluan atau awal dari dunia karir. Ketertarikan siswa terhadap sekolah dan pekerjaan dapat membantu atau memberikan kesempatan untuk mengembangkan minat, sehingga siswa mempunyai pandangan untuk menentukan arah pekerjaan nantinya.

Pilihan ini penting karena mempengaruhi diri siswa terhadap tuntutan pendidikan yang akan dihadapi dan kemungkinan kegagalan maupun keberhasilan dalam jurusan yang dipilihnya. Pilihan pendidikan yang dipersiapkan sejak awal memudahkan siswa dalam menentukan karir masa depannya. Pilihan tersebut diharapkan sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki sehingga proses pendidikan dan pekerjaan dapat berjalan dengan maksimal. Berdasarkan beberapa penelitian diketahui bahwa pilihan yang dibuat siswa dan terutama sekali pada saat memilih jenjang pendidikan mempunyai hubungan yang sangat kuat atau memberikan dampak jangka panjang dalam perkembangan pendidikan dan karir dikemudian hari.

Perlu dipahami bahwa tidak semua remaja dapat mengambil keputusan dengan mudah dan kebanyakan dari mereka mengalami episode kebingungan sebelum dapat menetapkan jalan karir. Proses eksplorasi karir dan pengambilan keputusan dapat membuat tekanan yang berkelanjutan dalam kehidupan remaja. Reaksi stres memungkinkan remaja memberikan tanggung jawabnya kepada orang lain dan bahkan menunda/ menghindar sehingga membuat keputusan yang tidak optimal.

Creed, Patton, dan Prideaux, (2006) di dalam jurnal penelitiananya mengungkapkan bahwa sebanyak 50 % siswa mengalami kebingungan dalam pengambilan keputusan. Salah satu faktornya adalah begitu banyak pilihan jenjang pendidikan dan jenis pekerjaan yang tersedia, serta kebutuhan untuk mengetahui nilai-nilai kehidupan serta tujuan apa yang dibutuhkan dalam pilihan karir tersebut. Selain itu, terbatasnya eksplorasi dan pengalaman pada role model karir maka minat dan aspirasi siswa berkaitan dengan bidang karir tertentu sering kali menjadi steriotipe, terbatas, dan tidak tetap/ berubah-ubah. Terbatasnya informasi berbagai pekerjaan yang ada dalam masyarakat tentunya membuat siswa menjadi berpikir atau memilih sesuai apa yang diketahui. Misalnya, dalam keluarga si remaja banyak yang berkerja di bidang kesehatan sehingga ia menemukan banyak informasi tentang pekerjaan tersebut dari berbagai arah dan bisa jadi ia memilih pekerjaan atau jurusan yang tidak jauh berbeda dari latar belakang keluarganya.

Pada saat episode kebingungan ini, orang tua melihat bahwa anak mereka tidak bisa membuat keputusan sehingga kemudian mengambil alih. Padahal yang dibutuhkan adalah pendampingan dan dorongan untuk mengidentifasi kemampuan, minat dan bakatnya dengan tepat. Oleh sebab itu, jika seorang anak yang memilih dan menjalani sebuah pilihan jurusan yang tidak sesuai dengan minat dan bakatnya atau memilih karena adanya paksaan dari pihak luar, misalnya dari orang tua mempunyai dampak negatif. Dampaknya antara lain menjalani studi dengan waktu yang lama atau tidak dapat menyelesaikan kuliah dengan baik (dengan nilai rendah atau pas-pasan).

Kondisi tersebut tentu tidak diharapkan oleh setiap orang tua yang ingin memberikan kebahagiaan pada anaknya. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai jenis pekerjaan-pekerjaan tertentu, dimana setiap pekerjaan  memiliki kekurangan dan kelebihananya. Meskipun dalam kehidupan kita bermasyarakat terdapat pekerjaan yang memberikan prestise yang tinggi tetapi bukan berarti memilih pekerjaan yang lain adalah sebuah mimpi buruk. Dalam perkembangan karir yang terpenting adalah bagaimana seorang anak mengerti, memahami dan menguasai bidang pilihannya sehingga dapat diaplikasikan dalam pekerjaannya dikemudian hari yang kemudian dapat memberikan kesuksesan tersendiri bagi si anak.

Oleh sebab itu, orang tua dalam proses ini memberikan kepercayaan kepada anak tetapi juga memfasilitasi proses perkembangan karir si anak. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengajak berdiskusi anak mengenai pilihan karirnya dan melakukan eksplorasi. Misalnya mencari tahu jurusan tertentu dengan lapangan pekerjaannya.
  • Fasilitasi perkembangan karir sejak dini, yaitu dimulai dengan mengetahui minat dan bakat anak. Sehingga, baik orang tua atau si anak tidak memilih jurusan baru sesaat akan lulus SMA. Jika demikian maka yang terjadi adalah memilih dengan terburu-buru dan kebingungan.
  • Mencari tahu potensi si anak untuk mengetahui kemampuan dasar si anak dengan melakukan konsultasi.
  • Mengarahkan si anak untuk lebih termotivasi dalam belajar
  • Memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada si anak dalam proses pilihan karir tersebut.
  • Pihak sekolah memfasilitasi kegiataan bagi siswa untuk mempertajam pemahaman mengenai jurusan dan berbagai jenis pekerjaan yang ada, misalnya dengan pameran pendidikan.
About these ads

One comment

  1. mantap…
    bisa jadi bahan pelajaran ane nih…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: