h1

Pentingnya Ketrampilan Sosial Bagi Anak

04/05/2010

“Sepulang sekolah Dita terlihat cemberut di kamarnya. Ia sedih karena ia merasa tidak mempunyai teman setelah seminggu sekolah di sekolah barunya. Dita saat ini duduk di kelas satu Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Yogyakarta”

Pengalaman Dita hanya merupakan salah satu ilustrasi bagaimana seorang anak membutuhkan kehadiran teman-temannya dalam keseharian. Pengalaman menjalin pertemanan tidak hanya terjadi saat anak pertama kali masuk ke sekolah, namun diberbagai situasi baru misalnya pindah ke tempat yang baru, hadir ke tempat acara kerabat dan lain-lain.

Pada dasarnya anak-anak usia sekolah dasar merupakan usia berkelompok yaitu ditandai dengan minat yang tinggi terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok, dan merasa tidak puas jika tidak bersama teman-temannya. Anak-anak akan merasa sangat sedih jika seharusnya ia terlibat dengan banyak teman, ia malahan tidak mempunyai teman untuk berbagi. Oleh sebab itu, orang tua harus peka dengan kondisi disaat si anak mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman atau adanya hambatan ketrampilan sosial.

Ketrampilan sosial pada anak merupakan salah satu hal penting dalam membantu anak untuk bisa mempunyai teman dan berinteraksi dengan orang lain. Ketrampilan sosial ini membantu perkembangan anak dalam menjalani tugas perkembangannya. Kadang kala kita sebagai orang tua hanya mendampingi anak dengan fokus pada kemampuan anak di sekolah misalnya dalam membaca, mengerjakan soal atau kemampuan di sekolah yang lainnya. Namun, kita menghabiskan waktu yang sedikit sekali untuk mengajarkan ketrampilan sosial pada mereka. Orang tua menganggap bahwa kerampilan itu akan berjalan dan berkembang dengan sendirinya tanpa perlu pendampingan. Oleh sebab itu, orang tua perlu melakukan pendampingan agar si anak dapat meningkatkan ketrampilan sosialnya dan juga merasa mendapatkan dukungan yang besar untuk berani terlibat dalam interaksi sosial. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain;

a.Jangan panik

Tidak semua anak mudah terlibat dalam interaksi dengan orang lain, beberapa anak membutuhkan waktu untuk mau terlibat dengan orang lain. Sehingga, jangan terlalu panik dan terburu-buru ketika anak anda masih terlihat takut pertama kali mengenal orang lain.

b.Mendengarkan

Ketika anak Anda mengalami masalah dalam interaksinya baik di sekolah atau pun dilingkungan tetangganya. Dengarkan dulu permasalahan yang dihadapinya jangan langsung pada pemecahan masalahnya karena kadang kala mereka hanya butuh didengarkan untuk meluapkan rasa kesal.

c.Melibatkan dalam aktivitas ekstrakulikuler

Jika disekolah terdapat kegiatan ekstrakulikuler, dorong anak Anda untuk terlibat di dalamnya karena anak Anda dapat berbagi dengan anak yang lain dengan minat yang sama.

d.Berbagi makanan dengan teman sebelah

Mengajari anak untuk berbagi dengan teman merupakan salah satu langkah yang sederhana. Dengan berbagi makanan dengan teman sebelah akan membantu anak dalam mencairkan suasana

e.Mengijinkan anak Anda mengajak temannya ke rumah

Katakan kepada anak Anda bahwa ia boleh mengajak temannya datang ke rumah untuk bermain atau bahkan belajar. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk membangun hubungan anak Anda dengan temannya secara lebih intensif.

f.Mengatur kegiatan-kegiatan sosial dalam jadwal keluarga

Aturlah jadwal keluarga Anda dalam kegiatan sosial atau kegiatan kemasyarakatan, misalnya mengikuti lomba tujuh belasan. Kegiatan ini memfasilitasi anak Anda untuk belajar berinteraksi dengan orang lain dan memberikan banyak wawasan.

g.Observasi perilaku anak Anda

Apakah perilaku anak Anda yang menjadi masalah sehingga ia sulit mendapatkan teman atau interaksi dengan teman? Hal ini perlu diperhatikan dengan mengamati perilakunya ketika bersama orang lain. Apakah ia terlalu egois, atau terlalu malu? Jika itu yang Anda temukan, ajaklah dia berdiskusi mengenai apa yang sebaiknnya dilakukan.

Pada dasarnya anak-anak mempunyai kebutuhan yang besar untuk berinteraksi dengan teman sekelompoknya. Namun, tidak selalu mereka mendapatkan situasi yang mudah untuk dilalui bahkan dipahami oleh mereka sendiri. Orang tua harus menjadi motor yang positif bagi anak sehingga dapat membantu perkembangan ketrampilan sosial anak dan sekaligus membantu perkembangan psikologis anak menjadi lebih optimal.

Sumber:

Hurlock, Elizabeth B., 1994. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo. Erlangga. Jakarta.

Rice, F.P. 2001. Human Development: Life Span Approach. Prantice Hall. New Jersey.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: